The Beauty of Bromo Mountain

9 Jul

Gunung Bromo merupakan salah satu tujuan wisata di Jawa Timur. Tempat wisata alam ini terletak di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di timur kota Malang, Jawa Timur. Pengunjungnya bukan hanya wisatawan lokal, bahkan banyak yang berasal dari luar negeri. Dengan pemandangan yang khas membuat Bromo layak menjadi tujuan wisata. Dan hal itulah yang mendasari niat saya dan Bro Budi (033) untuk menjelajahi Gunung Bromo.

Hari Ke 1 (22 Mei 2009-23 Mei 2009)

Setelah melakukan aktivitas pada siang harinya, kamipun sepakat untuk menjadikan Kios Bikers sebagai Meeting Point. Fisik dan mentalpun kami persiapkan demi kelancaran pada saat perjalanan. Jalur Selatanlah kami jadikan sasaran pijakan roda, karena kami hendak mampir di Yogyakarta terlebih dahulu. Setelah mendengarkan saran-saran dari bro-bro Spider Community, kamipun menuju JAR Depok untuk berpamitan dengan teman-teman dari Pulsar Owner (Power) Depok.

Tepat pukul 21.45 kami pergi meninggalkan Kota Depok untuk menuju Cibubur-Jonggol. Padahal teman-teman kami sudah memperingatkan untuk tidak melewati Jonggol pada malam hari karena daerah tersebut terbilang cukup rawan. Tapi kami juga tidak mau lewat jalur Bogor-Puncak karena arus lalu lintas pada malam itu cukup padat. Jalur Jonggol pun dilewati dengan sangat hati-hati. Tanah longsor, pasir basah, kubangan air, hutan, dan banyak lagi hal lain yang dilewati. Alhamdulillah, jam 23.00 WIB kami berhasil keluar dari Jonggol.

Melibas track Bandung-Malangbong-Garut-Tasik-Ciamis hingga tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 03.00 WIB. Karena lelah beraktifitas pada siang harinya, kamipun memutuskan untuk beristirahat di SPBU Ciamis depan Aladdin Mini Market. Adzan Subuh mulai menggema di udara. Kami tergugah untuk melaksanakan kewajiban. Melakukan olahraga ringan seperti lari-lari kecil sangat baik untuk menjaga vitalitas tubuh. Setelah sarapan nasi uduk, kami melanjutkan perjalanan pada pukul 06.30 WIB melewati Kota Banjar-Majenang-Wangon. Sesampainya di Bumiayu, kami disuguhkan Es Dawet Ayu Asli yang cukup untuk melegakan dahaga.

Perjalananpun dilanjutkan. Cuaca siang itu cukup panas, kisaran 38º C. Tanpa terasa, kami sudah memasuki Purworejo pada pukul 12.00 WIB. Makan nasi padang, lalu ngegas lagi sampai Wates tepat pukul 13.20. Setelah itu kami mencuci motor dulu di Wates kota, tarifnya ga jauh beda sama di Jakarta yaitu Rp 10.000,-. Kami memutuskan untuk bermalam di rumah kakek saya di Desa Kedungrejo, Kulon Progo, Wates.

Rute : Depok – Cibubur – Jonggol – Cariu – Cianjur – Padalarang – Cimahi – Cibiru –Rancaekek – Cicalengka – Blubur Limbangan – Malangbong – Pagerageung – Ciawi – Rajapolah (Tasik) – Cikoneng – Ciamis – Banjar – Wanareja – Majenang – Karang Pucung –Jatilawang – Rawalo – Sumpiuh – Tambak – Gombong – Karanganyar – Kebumen – Kutoarjo – Bayan – Purworejo – Banyu Urip – Bagelen – Temon – Wates.

  • Jarak : 586.3 km
  • Lama Istirahat : Total 4-5 jam
  • Lama Perjalanan : 21.45 WIB – 13.20 WIB = 15 jam 30 menit (Break total 5 jam)
  • Bahan bakar : 14.44 liter

Hari Ke 2 (24 Mei 2009)

Pagi yang indah mengawali hari ini. Benar-benar suasana yang menciptakan semangat untuk melanjutkan perjalanan ke Gunung Bromo. Waktu menunjukkan pukul 7 pagi. Setelah melakukan beberapa persiapan dan tak lupa sarapan pagi, kami berpamitan dengan Si Mbah. Baru beberapa meter meninggalkan rumah, tiba-tiba motor saya mogok. Ternyata tangki saya banyak terisi air. Jadi, tangki yang berkapasitas 20 liter tersebut harus selalu terisi penuh karena kalau tersisa 3 strip (± 7 liter)  aja motor bisa mogok di jalan.

Setelah Si Setan Merah normal lagi, kami melanjutkan perjalanan. Selama beberapa jam membetot tali gas, kami break Dzuhur di Kertosono, Nganjuk sambil nyobain Soto Babat Campur. Entah kenapa, makanan di Jawa tuh enak banget. Pokoknya beda sama Jakarta deh.

Perut kenyang, ibadahpun sudah terlaksana, kami ngaspal lagi. Dan uniknya, kami 2 kali terkecoh petunjuk arah jalan. Yang pertama di Mojosari. Petunjuknya putar balik lurus ke kiri menunjukkan kea rah yang kami tuju, yaitu Purwosari-Purwodadi. Ternyata petunjuk tersebut mengarah ke Pasuruan-Ketapang. Lalu yang kedua tidak jauh dari situ, ada petunjuk jalan yang arahnya ke kiri ke Gempol, Pasuruan ke kanan ke arah Malang. Tujuan kami mencari daerah Gempol, berarti belok kiri dong? Kami belok ke kanan, tapi anehnya begitu kami tanya sama penduduk setempat, ternyata kami berada di jalur yang tepat. Akhirnya kami memutuskan untuk istirahat di penjual roti bakery di Gempol.

Saya menelepon Pak H. Agus (Power Bogor) untuk mencari informasi tentang track yang akan kami lewati. Setelah mendapat wejangan dari Pak Haji, tiba-tiba beliau menginformasikan bahwa Bro Hendra (Power 024) mengalami kecelakaan di Sentul. Sontak hal tersebut membuat kami panik. Ya, malam hari Sabtu memang ada 7 orang anggota Power Depok yang jalan-jalan ke Bandung. Saya langsung menghubungi Bro Surya (Power 028) untuk mengetahui kronologi kecelakaan tersebut. Ternyata Bro Tyo (Power 008) dan Bro Hendra pulang lebih awal karena Bro Hendra ada urusan keluarga.

Mereka lewat track Cianjur-Puncak-Sentul. Saat di Sentul mereka melewati salah satu anggota Mailing List Yamaha Scorpio (MILYS). Dengan lebar jalan yang hanya ± 3 m, mereka melibas tikungan dengan kecepatan 70-80 km/jam. Di depan tiba-tiba melintas mobil Nissan Serena. Akhirnya kecelakaanpun tak bisa terhindarkan. Bro Hendra menghantam bagian kanan depan mobil tersebut. Alhamdulillah, beliau tangannya “cuma” terkilir dan bekas luka patah di kakinya berdarah. Dengan kekuatan yang tersisa, beliau meluncur ke rumah Bro Budi (Power 007) untuk meminta pertolongan. Ternyata Uncle Sam (Power Bogor) berinisiatif untuk mencari Bro Hendra dengan menggunakan mobil Storing menelusuri Sentul. Tapi ngga ketemu. Sesampainya di rumah Bro Budi, Bro Hendra langsung dilarikan ke H. Agus di Sukabumi untuk mendapat perawatan intensif. Alhamdulillah, beliau tidak mengalami cedera serius.

Kembali lagi ke Bromo. Kami melanjutkan perjalanan menuju Bromo melalui Desa Purwosari-Nongkojajar. Tracknya sangat menantang, tikungan-tikungan maut disuguhkan disana. Sayangnya ketika naik ke atas, kami mendapat track basah berpasir, kabut juga mulai turun, jadi harus ekstra hati-hati. Akhirnya sampai juga kami di Desa Tosari, Puncak Gunung Bromo. Baru aja parker motor, kami langsung ditawari penginapan. Villa Bromo Roro Anteng milik Ibu Kayah yang kami pilih sebagai tempat singgah. Tarifnya murah banget, cuma Rp 70.000 / malam.

  • Jarak : 440.9 km
  • Lama Istirahat : Total 2 jam
  • Lama Perjalanan : 08.00 WIB – 17.40 WIB = 9 jam 40 menit (Break 2,5 jam)
  • Bahan bakar : Belum isi bensin lagi dari Yogya

To Be Continued…

(Prepared by : 027)

One Response to “The Beauty of Bromo Mountain”

  1. hendra 29 August 2009 at 2:54 pm #

    bro,lo kog bs inget mendetail kayak gini seh?apa lo tiap istirahat u catet yah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: